KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.2
Koneksi Antar Materi Modul 3.2
Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya
Oleh: Khawadits, S.Pd
A. Pemimpin Pembelajaran dalam
Pengelolaan Sumber Daya
Dalam buku Dasar-dasar Ekologi yang terbit tahun 1996,
dijelaskan bahwa ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk
dari proses reaksi timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang terbentuk dalam
ekosistem ini terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik
merupakan komponen yang terdiri dari benda hidup atau unsur yang bernyawa.
Adapun komponen abiotik yaitu unsur yang tidak bernyawa namun menjadi pendukung
yang penting dalam keberlangsungan ekosistem.
Jika kita deskripsikan lebih jauh, sekolah merupakan
komunitas atau ekosistem yang membentuk tatanan terstruktur yang didalamnya
terjadi interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur
yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainn sehingga
terciptalah hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah,
faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif
satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di
antaranya adalah: murid, kepala sekolah, guru, tata usaha/tenaga kependidikan,
pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua dan masyarakat yang tinggal disekitar
sekolah. Selain faktor-faktor biotik, faktor-faktor abiotik yang tidak dapat
dipisahkan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Komponen abiotik
sebagaimana penjelasan diatas di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan
prasarana.
B. Aset
Menurut PSAK No. 16 Revisi Tahun 2011, aset adalah semua kekayaan yang dipunyai oleh
individu ataupun kelompok yang berwujud maupun tidak berwujud, yang memiliki
nilai akan memiliki manfaat bagi setiap orang atau perusahaan. Sekolah
yang merupakan ekosistem juga memiliki aset baik hidup maupun tak hidup sebagai
kekayaan yang diharapkan dapat membawa manfaat bagi terwujudnya pendidikan yang
berpihak pada murid.
Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset
building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam
buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu: Modal Manusia, Modal
Sosial, Modal Fisik, Modal Lingkungan/alam, Modal
Finansial, Modal PolitiK, Modal Agama dan budaya. Dengan
mengetahui sumberdaya yang ada di sekolah dan sekitarnya, maka sebagai pemimpin
pembelajaran hendaknya bisa memetakan 7 aset atau modal utama dalam sekolah dan
tugas sebagai pemimpin adalah bagaimana mengelola ketujuh aset sekolah atau
sumber daya tersebut untuk kepentingan dan kemajuan sekolah.
Ada dua pendekatan berfikir dalam pengelolaan asset:
- Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based
Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif.
memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan
apa yang tidak bekerja.
- Pendekatan berbasis aset (Asset-Based
Thinking)adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada apa
yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun
potensi yang positif.
Dengan berfikir
berbasis aset maka kita bisa fokus pada asset atau kekuatan, merangsang
proses berpikir, merangsang otak ke arah kemajuan dan solusi, membayangkan masa
depan, melihat potensi yang ada disekitar kita, berfikir tentang kesuksesan
yang telah diraih, dan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan misi yang
telah dirancang. Namun sebaliknya jika berfikir berbasis kekurangan, maka kita akan
menghambat proses kemajuan.
Jadi dengan berfikir berbasis pada asset maka kita akan
bisa fokus pada kekuatan, dan kita akan bisa mengorganisasikan kompetensi dan
sumber daya sehingga kita akan bisa merancang rencana berdasarkan visi dan dan
kekuatan serta bisa mewujudkan rencana aksi yang sudah diprogramkan
Asset-Based Community Development (ABCD) atau kita sebut dengan
Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang
dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, yang suatu pendekatan yang
menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang
dimiliki oleh anggota komunitas, yang dijadikan sebagai kekuatan untuk maju dan
berkembang.
C. Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara
Modul
1.1 membahas tentang sumberdaya atau aset, dimana yang dimaksud dengan aset
sebagai sumber daya manusia yaitu murid itu sendiri. Sebagai pemimpin
pembelajaran maka kita harus mendidik siswa semaksimal mungkin sesuai filosofi
Ki Hadjar agar siswa bisa berkembang sesuai kodratnya. Menurut Ki Hadjar
Dewantara, bahwa maksud pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala
kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota
masyarakat. Siswa memiliki 2 kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai
pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan
pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa
sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Modul 1.1 berfokus
pada anak-anak, sehingga guru sebagai petani, bisa menuntun kodrat anak agar
bisa tumbuh sesuai kodratnya dengan mengelola asset yang ada.
D. Nilai dan peran Guru Penggerak
Modul
1.2 tentang Nilai dan Peran guru penggerak juga membahas tentang sumber daya
manusia yaitu guru, dimana untuk bisa mengelola potensis siswa, maka seorang guru
harus memiliki kapasitas, komepetensi dan dasar nilai dalam mengelola asset
yang ada. Nilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak
pada murid harus dijadikan landasan dalam pengelolaan asset sekolah terutama
untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Juga ada cara kerja bagaimana
memkasimalkan nilai-nilai karakter anak agar bisa berkembang dengan baik.
Begitu juga dengan peran sebagai guru penggerak yaitu pemimpin pembelajaran,
pemimpin pengembangan sekolah dan pemimpin manajemen sekolah
E. Visi guru Penggerak
Modul
ini berbicara tentang bagaimana mengelola asset atau sumber daya, pendekatan
apa yang kita gunakan untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana kita mencapai
perubahan atau visi yang kita inginkan. Sehingga modul 3.2 ini kembali
memperkuat modul 1.3 tentang pendekatan inkuiri Apresiatif model B-A-G-J-A dalam melakukan perubahan
atau pengembangan sekolah. Melaui pendekatan Inkuiri Apresiatif, maka sebagai
pemimpin pembelajaran kita bisa melakukan perubahan yang berbasis asset atau
sumber daya untuk menuju perubahan positif.
F. Buaday Positif
Budaya
Positif merupakan kebiasaan baik yang dikembangkan dan berkembang di lingkungan
sekolah yang mendukung perkembangan siswa secara umum. Apabila kita diibaratkan
sebagai petani, maka kita akan memaksimalkan sumber daya lingkungan yang
positif agar anak anak bertumbuh sesuai kodratnya. Sebagai pemimpin pemelajaran
adalah bagaiamana mengelola budaya positif yang sudah terbentuk, mengelola
lingkungan baik biotik maupun abiotik yang mendukung perkembangan karakter baik
pada siswa sehingga tujuan pendidikan Nasional seperti yang diharapkan
terwujud.
G. Pembelajaran Berdiferensiasi
Sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa
setiap anak mempunyai kodrat berbeda sehingga dibutuhkan
pembelajaran diferensiasi sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa
yang beragam tersebut. Untuk bisa melakukan perubahan dalam kelas dengan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi maka seorang pemimpin pembelajaran harus
bisa memetakan asset atau sumber daya dan juga memanfaatkan asset atau sumber
daya yang ada, baik itu sumber daya manusia biotik maupun abiotik, yaitu
sarana prasarana dan keuangan untuk bisa menyusun dan mendesain strategi
pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dan tepat sehingga bisa memenuhi
kebutuhan belajar siswa
Setiap anak memiliki kodrat yang berbeda baik dari
segi minat, profil belajar, maupun kesiapan belajarnya sehingga pembelajaran berdiferensiasi sebagai sebuah
strategi untuk menuntun anak sesuai kekuatan kodratnya.
H. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Modul
ini membahas tentang cara atau strategi sebagai pemimpin pembelajaran untuk menuntun anak-anak
untuk mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia. Pendidikan
ataupun pembelajaran bukan semata mata berorientasi pada aspek kognitif tapi
bagaimana bisa mengembangkan kecerdasan sosial emosional pada diri anak agar
anak bahagia.Tehnik mindfulness bisa dijadikan strategi atau cara mengelola
sumber daya manusia yang kita miliki yaitu murid sehingga potensi kecerdasan
sosial emosional anak bisa berkembang optimal.
I. Coaching untuk Pembelajaran
Modul
2.3 berbicara tentang coaching yang merupakan sebuah tehnik atau strategi
seorang pemimpin pembelajaran untuk menuntun, mendampingi anak, untuk menggali
potensi anak dan memaksimalkannya. Coaching memberikan kesempatan anak-anak untuk
berkembang dan berpikir kritis dan mencapai potensi diri yang optimal.
J. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran
Dalam modul ini seorang pemimpin pembelajaran dituntut
untuk bisa mengambil keputusan yang beretika
dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis 4 paradigma, 3 resolusi
berpikir dan 9 langkah pengujian
keputusan. Prinsip pengambilan Keputusan ini sangat penting apalagi yang
berkaitan dengan pengelolaan aset atau sumber daya sekolah untuk kepentingan belajar
murid.
Demikianlah koneksi antar materi yang dapat penulis
susun. Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan isinya masih
banyak perlu peningkatan dan koreksi disana sini. Oleh karenanya saran yang
membangun sangat diharapkan dari para pembaca. Semoga pendidikan di Indonesia
semakin maju dan diperhitungkan.
Comments
Post a Comment