KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 2.2
KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 2.2
OLEH:
KHAWADITS, S.Pd – CGP ANGKATAN 5
KABUPATEN SIAK
PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL (PSE)
I.
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Undag-undang Nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatakan bahwa Peserta didik adalah anggota masyarakat
yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang
tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Begitu
juga kepada siapapun yang memberikan les di rumah, maka anak-anak yang datang
belajar pun bisa disebut sebagai peserta didik. Jadi, setiap anak
yang bersekolah dapat disebut dengan siswa atau murid. Merekalah
generasi penerus bangsa yang kelak akan membangun Negara ini menjadi maju dan
berkarakter. Bangsa Indonesia harus memiliki karakter mulia sesuai norma-norma
agama, hukum, budaya, dan adat istiadat yang sudah mengakar yang saling berkaitan
dan mendukung satu dengan yang lain.
Oleh sebab itu pendidikan berkarakter
yang akan ditanamkan kepada murid merupakan investasi bangsa yang sangat
penting dan berharga bagi pendidikan di Indonesia. Karakter suatu bangsa
mencerminkan seberapa tinggi nilai dan derajat masyarakat penghuninya. Setelah keluarga
sebagai dasar pembetukan karakter manusia, sekolah merupakan wadah yang
sistematis dan telah diatur sedemikian rupa agar warga yang ada didalamnya
dapat terbentuk sesuai dengan yang diharapkan.
Menjadi tugas
besar dan mulia bagi para pendidik (guru) dalam mengejawantah pesan Sistem
pendidikan nasional yaitu upaya terencana dalam mewujudukan proses dan suasana
pembelajaran supaya pelajar aktif dalam mengembangkan potensi diriny yang
memiliki kecerdasan, akhlak, pengendalian diri, maupun keterampilan yang
berguna bagi diri sendiri, masyarakat, maupun negara. Guru perlu menyadari,
bahwa setiap elemen dari tantangan ini dapat ditingkatkan dengan perhatian yang
bijaksana, berkelanjutan, dan sistematis melalui pembelajaran sosial emosional
(Novick, Kress, & Elias,2002). Pembelajaran sosial emosional merupakan
salah satu pendekatan dalam mengembangkan ranah emosi murid.
Kompetensi-kompetensi sosial emosional murid diorganisasikan dalam tugas-tugas
perkembangan yang positif. Pengembangan kompetensi tersebut akan dicapai
melalui eksplorasi dan interaksi murid dengan orang tua, pendidik, teman, atau
lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian diharapkan murid akan memiliki
karakter unggul, kritis, berjiwa patritisme dan memiliki kecerdasan social dan
emosional yang tinggi.
II.
HUBUNGAN DENGAN PARADIGMA KI
HAJAR DEWANTARA
Ki Hadjar
Dewantara adalah seorang Pejuang pendidikan di Indonesia. Semangat juang beliau
dalam usaha mengentaskan buta aksara sangat mengispirasi. Padahal, beliau
adalah seorang bangsawan yang secara situasi dizaman penjajah kala itu,
berjuang untuk bangsanya sendiri adalah suatu hal yang jauh dari kata mudah. Karena
penjajah tidak ingin bangsa yang dikuasai menjadi pintar yang bias menjadi
penhalang bagi misi mereka. Beliaulah yang merangkai kalimat ING NGARSO SUNG
TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, dan TUT WURI HANDAYANI. Kalimat ini memberikan
kita tuntunan bahwa kalau ingin menciptakan peserta didik yang berkarakter dan
santun, maka kuncinya adalah berperilaku santun dan baiklah dari diri sendiri. Membudayakan
perilaku positif terutama disekolah adalah tugas terbesar bagi guru. Sebagai
sesama pendidik kita harus saling bergandeng tangan menyelesaikan persoalan
yang terjadi, dan memberi semangat kepada rekan guru lain serta para peserta
didik untuk bersama-sama mewujudkan Budaya
Positif.
Budaya positf
yang diterapkan diseklah merupakan kolaborasi pemikiran oleh seluruh warga
sekolah dan steakholder. Perumusan kerangka penyelesaian masalah yang terjadi
disekolah, harus diselaraskan dengan budaya positif. Segi tiga Restiusi dipandang tepat dalam menyelesaikan kasus yang
terjadi di sekolah. Sekolah dapat terus menjalankan kewajibannya tanpa
merugikan kepentingan dasar murid yang ingin merdeka dalam pembelajarannya. Disinilah Nilai dan Peran Guru dalam mewujudkan mimpi besar
bangsa Indonesia bias terejawantah.
Pemikiran
Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan telah menjadi tonggak sejarah bagi pendidikan
di Indonesia. Konsep pendidikannya yang dapat diterima dan menonjolkan kekhasan
kultural Indonesia serta menekankan pentingnya pengolahan potensi-potensi
peserta didik dari dalam diri mereka sendiri. Konsep pendidikannya sungguh
kontekstual untuk kebutuhan generasi Indonesia pada masa itu. Beliau juga meyakini
peserta didik bukanlah objek tetapi sebagai subyek pendidikan. Dalam konteks
itu, tugas pendidik adalah mengembangkan potensi-potensi peserta didik dari
dalam tanpa paksaan. Untuk mewujudkan pendidikan tanpa paksaan, maka sekolah
dan guru harus berkolaborasi membentuk Visi
dan Misi sekolah yang berpihak pada murid. Langakah awal yang bias dilakukan
adalah dengan membentuk Keyakinan Kelas.
Bagaimana
ini bias terlaksana? Sebagai langkah awal, guru memberikan pengertian kepada
para muridnya tentang arti dan tujuan dibentuknya Keyakinan Kelas. Setelah
mereka mengerti maksud dan manfaat dari Keyakinan Kelas itu, mereka dituntun
oleh guru bersama-sama merumuskan Budaya-budaya Positif yang tercermin dalam
keyakinan kelas tersebut. Tidak ada yang merasa terpaksa atau dipaksa dalam
perumusan Keyakinan Kelas tersebut. Semua datang dari hati nurani dan kesadaran
yang muncul dari dalam diri mereka sendiri (intrinsik).
III.
PENERAPAN KSE (KOMPETENSI SOSIAL
DAN EMOSIONAL) PADA PEMBELAJARAN
Selaras
dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Pembelajaran Sosial dan
Emosional berbasis kesadaran penuh adalah upaya untuk menciptakan
ekosistem sekolah yang mendorong bertumbuhnya budi pekerti, selain
aspek intelektual. Lewat Pembelajaran Sosial dan Emosional, murid diajak
untuk menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan,
mengalami berbagai pengalaman belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap positif mengenai aspek Sosial dan Emosional. Agar
guru dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal
melalui suasana belajar dan proses pembelajaran yang
sistematik, menyeluruh, dan seimbang, guru perlu
menyadari, mengelola, dan menerapkan pembelajaran sosial dan
emosional dalam dirinya yang dilandasi kasih sayang,
perhatian yang berkual itas, keterbukaan, rasa
ingin tahu, sikap apresiatif dan semangat bertumbuh, yang dilakukan
secara mandiri maupun bergotong-royong.
Kompetensi
Sosial dan Emosional merupakan pendekatan yang sangat penting dalam pelaksanaan
pembelajaran baik didalam maupun diluar kelas. Pembelajaran Sosial dan
Emosional sebenarnya sudah melekat pada setiap kegiatan pembelajaran dan
kehidupan sosial disekolah. Hanya saja hal ini acap kali tidak disadari oleh para
guru. Guru sebenarnya sudah banyak yang telah dilakukan seorang guru untuk
menerapkan kompetensi ini.
PSE yang
diterapkan berbasis kesadaran penuh (mindfullnes) dengan Latihan STOP. Adapun
teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sosial emosional seperti
bernafas dengan kesadaran penuh, identifikasi perasaan, mendengarkan suara-suara
merdu, membuat jurnal diri, membuat puisi, membuat kolase diri, memeriksa
perasaan diri, menuliskan ucapan terima kasih, mengidentifikasi emosi, mindful
eating, cari teman baru, mengenali situasi menantang, latihan menyadari
kondisi tubuh (Body Scanning), kegiatan menulis surat,
kegiatan role play komunikasi aktif, dan kegiatan menulis
pengalaman bekerjasama dalam kelompok.
Guru perlu
menyadari akan pentingnya KSE ini dan konsisten dalam menerapkan KSE sebagai
bagian dari proses pembelajaran. Seluruh proses kegiatan belajar mengajar di
sekolah harus dilakukan dalam keadaan berkesadaran penuh (mindfulness), sehingga apa yang terjadi didalam kelas dapat
disadari dan dimaknai sebagai bagian untuk mengontrol sikap sosial dan
emosional setiap individu baik guru maupun murid. Dalam pelaksanaannya, tentulh
tidak semudah terbangun dari tidur.
Di sinilah letak urgensi Pembelajaran sosial dan Emosional (PSE) untuk mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, yaitu pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu:
1.
Kesadaran diri (self awareness)
Self awareness dapat diartikan sebagai kemampuan
untuk mengenali diri secara akurat mengenai emosi, pikiran dan nilai atau value
diri. Guru yang memiliki kesadaran diri yang tinggi mampu mengenali keterkaitan
antara perasaan, tindakan dan pikiran yang dilakukan. Mereka juga akan mampu
menilai secara akurat kekuatan dan keterbatasan diri. Alhasil, tingkat percaya
dirinya, mindset, optimisnya sangat kuat. Dengan demikian, guru bersama
muridnya dapat menemukan titik terbaik dalam proses pembelajarannya.
2.
Manajemen diri (self management)
Kompetensi manajemen diri ini berkaitan mengenai
kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilaku di berbagai situasi.
Kemampuan ini juga berkaitan dengan penanganan stress, mengontrol hasrat,
bertahan menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika kompetensi ini suda
dimiliki oleh guru, maka proses pembelajaran akan berlangsung tanpa tekanan dan
paksaan.
3.
Kesadaran sosial (social
awareness)
Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk bisa
berempati dengan orang lain dan mengambil perspektif dari berbagai sudut
pandang. Pendeknya, kemampuan ini berkaitan erat dengan norma dan etika
berperilaku terutama dengan keyakinan kelas yang sudah disepakati. Kemampuan
akan kesadaran sosial ini sangat membantu murid untuk bisa memahami dan
menghormati orang lain. Kemampuan ini tentu akan sangat bermanfaat ketika murid
disadarkan akan kenyataan bahwa mereka dating dengan latar belakang yang
berbeda.
4.
Keterampilan berelasi
(relationship skill) atau berkolaborasi
Kemampuan berelasi ini berkaitan dengan kemampuan
seseorang untuk membangun dan memelihara suatu hubungan yang sehat antar
individu dan kelompok. Kemampuan berelasi ini juga berkaitan dengan kemampuan
seseorang untuk bertahan dari tekanan, meminta atau menawarkan bantuan ke orang
lain. Dengan kata lain, kemampuan berelasi ini berkaitan erat dengan kemampuan komunikasi
dan kolaborasi seseorang dengan orang lain. Kemampuan berelasi ini akan sangat
bermanfaat untuk murid ketika bekerja sama dalam mengerjakan tugas kelompok.
5.
Pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab (responsible decision making)
Kemampuan ini erat kaitannya dengan pembuatan pilihan konstruktif yang benar dan cara bertindak sesuai etika, norma, keselamatan. Namun pertanyaannya, bagaimana seseorang terutama murid tahu mana yang benar dan mana yang salah? Bagaimana pula memutuskan sesuatu dengan benar sesuai situasi dan kondisi? Seorang guru seyogyanya mampu menilai dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Segingga setiap keputusan yang perlu diambil selalu bermuara pada Kepentingan dan Kesejahteraan murid.
IV.
PENUTUP
Pembelajaran
sosial dan emosional pada murid merupakan dasar dalam penerapan pendidikan
karakter bagi murid. Aspek sosial emosional murid akan berkembang secara
berkelanjutan sejalan dengan proses pengembangan dan stimulus yang diberikan
kepada mereka. Pembelajaran sosial dan emosional pada murid akan melahirkan
kemampuan adaptasi secara holistic dan
berkesinambungan.
Kompetansi-kompetansi
social dan emosional seperti self-awareness, self-management, social awareness,
responsible decision making, dan relationship management yang menjadi pokok
pengembangan dalam proses pembelajaran KSE juga berimbas pada tertanamnya
karakter-karakter unggul dalam konteks social bermasyarakt nantinya.
Dengan
metode belajar yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa diharap dapat menumbuhkan
rasa percaya diri, penghargaan pada diri sendiri dan orang lain, berempati pada
orang lain dan mampu mengkomunikasikan perasaannya secara tepat. Dan
berimplikasi pada tertanam dan terbentuknya karakter-karakter mulia seperti
mengenal diri sendiri, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, berkepribadian
menarik, mengikuti perubahan, mengambil risiko, mengendalikan diri, kritis,
kerjasama, adil dan lain sebagainya.
Demikian koneksi
antar materi yang saya susun agar dapat menjadi pengingat dan pemelajaran bagi
saya sendiri, dan para pembaca semua. Tulisan ini tentunya jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
dalam penyempurnaan materi ini. Semoga pendidikan Indonesia makin terbilang.
Comments
Post a Comment