KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
Paradigma,
Prinsip, dan Langkah dalam Pengambilan Keputusan
Oleh: Khawadits, S.Pd
CGP angkatan 5
Kabupaten Siak
Acap
kali kita dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit dalam waktu yang bersamaan. Ini
terjadi dalam banyak kondisi, tempat, dan waktu. Terkadang kita diminta untuk memutuskan
perkara yang hasil keputusannya harus memuaskan semua pihak. Bukan karena tidak
mampu dalam mengambil sebuah keputusan, akan tetapi lebih kepada pertimbangan
dampak dari keputusan yang kita ambil.
Sebagai pemimpin pembelajaran, penulis
juga mengalami kondisi serupa. Sebagai contoh nyata, suatu ketika guru mengajar
didalam kelas, tiba-tiba orang tua murid datang menjemput anaknya untuk
membantunya bekerja diladang. Guru sudah mencoba memberi pengerrtian
kepadaorang tua murid tentang hak anaknya dan peraturan yang berlaku di sekolah.
Namun semua usaha sia-sia, dan sekolah harus melepas murid tersebut untuk
membantu orang tuanya mencari nafkah.
Saat ini, penulis telah memelajari
Modul 3.1 tentang pengambilan keputusan. Tentu, sebagai salah satu yang
mengikuti program Guru Penggerak, penulis diharapkan menjadi seorang pemimpin
pembelajaran yang mampu mengambil keputusan dalam situasi dan kasus apapun di sekolah.
Oleh karena itu, penulis telah memiliki modal dasar dalam praktik pengambilan
keputusan yang bijaksana. Banyak ketentuan yang harus ditempuh agar keputusan
yang diambil nantinya benar-benar menguntungkan semua pihak.
Seperti diketahui, setelah
memahami filosofi pendidikan yang
digagas Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan memberikan tuntunan terhadap segala
kodrat anak yang akan mengantarkannya pada, keselamatan dan kebahagiaan, baik
sebagai individu maupun anggota masyarakat, maka dalam pelaksanaannya, penulis
dituntut untuk dapat berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu
mendorong, menggali dan mengembangkan potensi anak.
Di sisi lain, sebagai pemimpin
pembelajaran yang berpedoman pada Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara – Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing
Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, maka
guru diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat, bijaksana, dan berpihak
pada murid. Termasuk menjadi sosok teladan dan motivator bagi mereka untuk
mengembangkan minat, bakat, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Dalam mewujudkan pendidikan yang
berpihak pada murid, tentunya seorang guru dalam perannya sebagai pemimpin
pembelajaran harus mampu menyelaraskan visi
dan misi yang sudah disepakati bersama, sehingga segala keputusan yang
diambil jelas dan sesuai dengan harapan semua pihak. Dan yang tidak kalah
pentingnya adalah seberapa manfaat keputusan yang diambil sehingga mampu
memberikan solusi atas segala permasalahan yang terjadi.
A.
Bujukan Moral dan Dilema etika
Ada dua situasi real saat kita
dituntut menjadi pengambil keputusan, yakni Bujukan Moral dan Dilema etika. Bujukan
Moral merupakan situasi pengambilan keputusan saat seseorang dihadapkan pada
kasus kebenaran melawan kesalahan.
Sedangkan Dilema Etika adalah sebuah situasi saat seseorang dihadapkan pada
keadaan yang keduanya benar namun memerlukan kebijaksanaan dalam pengambilan
keputusannya.
Dari kondisi di atas, kita sering
dihadapkan dengan dilema etika yang menuntut sikap bijak dalam mengambil solusi.
Hal ini dikarenakan dilema etika merupakan situasi yang kerap dihadapi, dan tidak sedikit dihadapkan dengan
pertentangan antara cinta dan kasih
sayang, kebenaran, keadilan, toleransi, kesetiakawanan, tanggung jawab, dan kebutuhan
hidup.
B.
Paradigma, Prinsip, dan Langkah
Pengambilan Keputusan
Seperti diketahui juga, di dalam mengambil keputusan, prosesnya seringkali bersinggungan dengan prinsip-prinsip tertentu. Oleh karena itu, dalam prosesnya, kita harus memilah dilemanya seperti dibawah ini:
1.
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2.
Rasa keadilan lawan rasa kasihan
(justice vs mercy)
3.
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Sementara itu, untuk dalam memutuskan kasus diperlukan prinsip-prinsip yang melandasinya. Terdapat tiga prinsip yang akan membantu dalam menghadapi sejumlah pilihan yang penuh dengan tantangan dalam pengambilan keputusan, yaitu:
1.
Berpikir Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking)
2.
Berpikir Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking)
3.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking)
Semua bentuk keputusan yang diambil haruslah adil, arif, dan bijaksana. Maka sebagai seorang pemimpin pembelajaran membutuhkan pengujian yang selaras dengan prinsip dasar pengambilan keputusan yang diterima semua pihak. Terdapat sembilan langkah untuk menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang terkadang menggiring kita ke dalam situasi dan nilai yang bertentangan. Kesembilan langkah tersebut adalah:
1.
Mengenali bahwa ada nilai-nilai
yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2.
Menentukan siapa yang terlibat
dalam situasi ini.
3.
Kumpulkan fakta-fakta yang
relevan dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau salah. Ada
uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji
panutan/idola.
5.
Pengujian Paradigma Benar lawan
Benar.
6.
Melakukan Prinsip Resolusi.
7.
Investigasi Opsi Trilema.
8.
Buat Keputusan.
9.
Lihat lagi Keputusan dan
Refleksikan.
Tidak semua langkah harus
diterapkan dalam mengambil keputusan. Selain langkah di atas, pemimpin
pembelajaran dalam pengambilan keputusan dapat juga menginternalisasikan teknik
coaching yang bisa menuntun potensi
yang dimiliki murid. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pengambilan keputusan
karena tenik coaching pun memiliki tujuan utama dalam mengatasi segala
permasalahan yang dihadapi dengan efektif, efisien dan bersinggungan dengan
dilema etika dalam sejumlah kasus.
C.
Kesimpulan
Dibutuhkan sikap yang bijak dalam
berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang harus memutuskan suatu kasus. Maka
guru, dalam setiap mengambil keputusan memerlukan kecermatan dan pengujian yang
tepat atas kasus yang dihadapinya. Paradigma, prinsip, dan
langkah-langkah pengambilan keputusan merupakan mekanisme pengambilan keputusan
yang sangat penting dilakukan oleh setiap pemimpin pembelajaran yang diharapkan
memiliki kompetensi Guru Penggerak sebagai pribadi yang mampu melakukan
pengambilan keputusan berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran.
Selanjutnya, seorang pemimpin
pembelajaran harus memiliki profil kompetensi yang mampu menyadari dan
menggunakan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan, serta mampu
menerapkan strategi untuk menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah
dan konflik kepentingan.
Akhirnya, penulis berpesan bahwa masihbanyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi memberikan dampak manfaat dalam pengambilan keputusan yang tidak mencederai semua pihak, terutama sesuai dengan tujuan utama Pendidikan Nasional yang berpusat dan berpihak pada murid.
Siak
Sri Indrapura, 24 Oktober 2022
Penulis
Comments
Post a Comment